Tentang Sitiung

JALAN PANJANG NEGERI “RAJO ULAYAT “

 

Nagari Sitiung adalah nagari tua, bahkan menurut catatan sejarah, Nagari Sitiung adalah nagari tertua di sepanjang aliran Sungai Batang hari. Menurut beberapa ahli sejarah, nagari ini di namai dengan sebutan ‘Sitiung’ sekitar tahun 1234 M. Begitu juga dengan keterangan dari tetua adat Sitiung, berlandaskan sebuah setempel atau cap kerajaan yang bertuliskan ‘Sri Raja Maha Diraja’ yang dibuat pada tahun 1295M.

Bahkan, kerajaan Pagaruyung pun mengakui bahwa di Dharmasraya ada kerajaan yang disebut Kerajaan Tigo Selo atau Cati Nan Tigo yang dipimpin oleh tiga raja, yaitu Sitiung sebagai raja wilayat / Rajo Alam, Siguntur sebagai raja adat dan Padang lawe sebagai raja ibadat.

Berikut bukti sejarah nagari yang tim kami temukan untuk membuktikan kejayaan nagari kita ini pada masa lampau adalah dua buku kitab Khutbah bajelo yang ditulis oleh Tuanku Tapian Biriang, seorang ulama penyebar Islam dikawasan ini pada tahun 1192 Hijriyah / 1771 M.

Selain dua benda sejarah tersebut, Sitiung juga mempunyai situs yang diduga cagar budaya, terkait hal ini pemerintahan Nagari Stiung sedang mengupayakan ke pihak terkait untuk melakukan proses pendataan dan perifikasi agar situs tersebut bisa di daftarkan.

Salah satu situs yang diduga cagar budaya yang mulai di lakukan pendataan dan verifikasi adalah Mesjid Jami’ Tua Sitiung di pinggir Sungai Batang Hari, selain itu di komplek Mesjid tersebut terdapat beberapa makam para ulama dan penyiar Islam di kawasan Sitiung dan Sepanjang aliran Sungai Batang Hari. Selain itu, masih terdapat beberapa unit Rumah Gadang yang membuktikan keberadaan Nagari Sitiung.
Dari keterangan diatas, nampaklah bahwa Nagari Sitiung adalah Nagari yang berpengaruh, baik dari segi wilayah maupun perkembangan Islam pada masa lampau.

 

Kemudian selain dari pada sejarah masa lampau, kesuksesan program Transmigrasi yang dicanangkan oleh pemerintah pusat pada sekitar tahun 1970 telah membuat Nagari Sitiung di kenal di tingkat nasional, bahkan beberapa kali nama Sitiung di sebutkan di Markas PBB perihal kesuksesan program tersebut. Penamaan program inilah yang menegaskan bahwa Nagari Sitiung memang mempunyai ulayat yang luas, pasalnya, dari 5 gelombang program transmigrasi tersebut di namai dengan Sitiung oleh pemerintah pusat dan wilayah nyapun tersebar dari wilayah pusat Sitiung sendiri sampai ke wilayah Sungai rumbai, Koto baru, Pulau punjung. Hal inilah yang membuktikan pengakuan secara tidak langsung akan kebesaran Sitiung pada masa lampau.

Hemat kami, pemerintah pusat waktu itu bukan tidak beralasan memilih Sitiung sebagai lokasi program tersebut, dan terbukti bahwa dari semenjak program tersebut direalisasikan pada tahun 1970-an sampai sekarang tidak pernah ada konflik yang berarti, seperti konflik-konflik yang terjadi di daerah transmigrasi lain antara penduduk lokal dengan saudara kita para transmigran. Hal ini membuktikan bahwa, masyarakat Sitiung adalah masyarakat yang toleran, terbuka terhadap perobahan. Dan hasilnya seperti yang generasi kita rasakan pada saat ini, berkat program transmigrasi tersebut nagari kita menjadi nagari yang berkembang, terutama dari segi pembangunan infrastruktur. Serta berbaurnya dua elemen masyarakat ini menjadikan nagari Sitiung sebagai nagari yang kuat, nagari yang penduduknya saling melengkapi, saling berbagi ilmu dan pengalaman khususnya di bidang pertanian.

Pada tahun 1928 Masehi Buya Tuanku Mudo Djaaka membangun sebuah perguruan Agama Islam dengan nama Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI). Dan perjuangan Tuanku Mudo Djaaka tentang pembangunan sekolah atau madrasah disambung Buya Tuanku Imam Salam , maka pada tahun 1950 dibangun pula sekolah Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) di Pulai Nagari Sitiung.

Sebenarnya masih banyak fakta dan realita yang bisa kita gali di nagari Sitiung, sebelumnya bukan bermaksud membangga-bangkan diri, tapi sebagai pendahuluan atas apa yang akan kami paparkan setelah ini, selayaknya kami mengajak kembali segenap warga masyarakat Sitiung untuk mengenal Tanah Tempat Tinggal, Ranah Tumpah Darah, supaya kepercayaan diri kita untuk bangkit dan melakukan perobahan kembali bergelora.

 

  • SEJARAH PEMERINTAHAN NAGARI SITIUNG

Sistem Pemerintahan Nagari yang pimpin oleh seorang wali Nagari sudah dimulai sejak zaman Kolonial Belanda atau sebelum Indonesia merdeka, wali nagari ini dibentuk dengan tujuan tali nan tigo sapilin tungku nan tigo sajarangan berjalan saling memperkuat antara syarak, adat dan undang/pemerintahan. Pada zaman ini sudah 2 (dua) wali nagari yakni Tuanku Toluak ( 1936-1943) dan M.Zaini ( 1943-1947).

Pada era Orde Lama sampai Orde Baru Nagari Sitiung dipimpin oleh 8 orang Wali Nagari yakni :

  1. Maahin Malin Paduko ( 1947-1950)
  2. Idris,Dt Rangkayo Bungsu (1950-1954)
  3. Zainal Arifin,Dt Tan Majolelo ( 1954-1957)
  4. Maahin,Dt Paduko ( 1957-1972)
  5. Isa ( 1972-1974 )
  6. Burhanudin ( 1975-1975)
  7. Ibnu Abbas,Dt Tigo Puluah ( 1875-1977)
  8. Abu Bakar ( 1977 -1982 )

Pada Orde Reformasi Nagari Sitiung dipimpin oleh 4 orang Wali Nagari yakni :

  1. Hamidi Malin Mandaro ( 2002 – 2010)
  2. Syarifuddin (2010 – 2016)
  3. Hamidi,S.Sos ( 2016)
  4. Julisman ( 2016 sampai sekarang)

 

  • KONDISI UMUM NAGARI

 

Penyajian gambaran umum kondisi daerah dilakukan melalui penyajian tabel/tabulasi data, analisis, hasil tinjauan lapangan serta didukung oleh foto/gambar. Hal ini digunakan untuk mendukung dan memudahkan pemahaman dalam menyajikan kondisi lapangan pada saat RPJM Nagari ini disusun. Gambaran umum kondisi nagari disajikan dalam 4 (empat) aspek pembangunan, yaitu (1) aspek geografi dan demografi, (2) aspek kesejahteraan masyarakat, (3) aspek pelayanan penyelenggaraan pemerintah, dan (4) aspek pembinaan dan pemberdayaan masyarakat.

 

Jenis data yang disajikan digunakan untuk mengukur capaian kinerja pembangunan sebagai dasar dalam pengambilan kebijakan selama periode 2017-2022. RPJM Nagari ini masih mempedomani Permendagri nomor 114 tahun 2014 serta indikator yang tersedia pada sasaran pokok RPJMD Kabupaten Dharmasraya, hal ini untuk menjaga keterkaitan antar dokumen dan fungsi data sebagai tolok ukur capaian kinerja pembangunan Nagari Sitiung.

  • DEMOGRAFI
    • GEOGRAFI

Letak geografis Nagari Sitiung berada pada dataran rendah dengan ketinggian 100-135 Mdpl pada koordinat 00’59.753’ Lintang Selatan dan 101’37.776’ Bujur Timur. Luas Nagari Sitiung secara keseluruhan 5.164 Ha atau 51,64 KM2 dengan suhu rata-rata 30-350C, dengan batas wilayah sebagai berikut:

  1. Sebelah Utara berbatas dengan : Kecamatan Timpeh
  2. Sebelah Selatan Berbatas dengan : Nagari Gunung Medan
  3. Sebelah Barat berbatas dengan : Nagari Siguntur
  4. Sebelah Timur berbatas dengan : Nagari Sungai Duo

Sedangkan jarak antara Kantor Nagari Sitiung dengan:

  1. Ibu Kota Provinsi : 200 Km
  2. Ibu Kota Kabupaten : 18 Km
  3. Ibu Kota Kecamatan : 0 Km

Sketsa Nagari sitiung dapat dilihat pada lampiran.

 

  • TOPOGRAFI

Topografi Nagari Sitiung tidak berbeda jauh dengan topografi Kabupaten Dharmasraya secara keseluruhan, antara berbukit, bergelombang dan datar dengan variasi ketinggian 100-135mdpl. Sebagian besar jenis tanah di Nagari Sitiung berjenis Podzolik Merah Kuning (PMK), jenis tanah seperti ini angan baik untuk digunakan untuk wilayah perkebunan dan pertanian, sementara lahan yang ada di Nagari Sitiung didominasi oleh lahan kosong (ex. Perkebunan karet). Di beberapa titik permukaan bumi di Nagari Sitiung berbentuk sedimen dan batuan kecil, terutama di sepanjang aliran Sungai Batang Hari yang berpotensi untuk usaha pertambangan batu alam dan pasir.

 

  • HIDROLOGI

 

Hidrologi atau kondisi air tanah di Nagari Sitiung cukup stabil karena dilalui oleh dua sungai, Sungai Batang Hari di sebelah utara dan Sungai Piruko di sebelah selatan, serta di lalui saluran induk irigasi batang hari sepanjang 7,3 Km. Sehingga air tanah di Nagari Sitiung cukp memadai untuk usaha pertanian dan perkebunan, ditambah dengan curah hujan rata-rata bulanan 265,36mm dengan tingkat intensitas 14,35 hari perbulan.

 

  • KEADAAN SOSIAL
    • KEPENDUDUKAN

Jumlah penduduk Nagari Sitiung menurut data BPS tahun 2015 adalah 7.667 jiwa, dengan jumlah laki-laki lebih besar dibanding penduduk perempuan dengan perbandingan 3.991 laki-laki dan 3.675 perempuan.

 

  • PENDIDIKAN

Rata-rata pendidikan penduduk Nagari Sitiung adalah tamatan Sekolah Dasar (SD) berjumlah 2.289 jiwa atau 31% dari keseluruhan jumlah penduduk. Sedangkan di urutan kedua yaitu penduduk tidak tamat SD dan penduduk belum usia sekolah sebanyak 2.141 jiwa atau 29%. Diikuti tamatan SLTA sebanyak 1.107 atau 15%. Sementara penduduk yang tamatan Strata satu sebanyak 298 jiwa atau 4% dari total penduduk.

 

  • KESEHATAN

Data kesehatan Nagari Sitiung dapat dilihat dari ketersedian sarana kesehatan, Puskesmas Pembantu yang ada di nagari Sitiung satu unit dengan satu bidan desa. Sementara Pusat Kesehatan Nagari (POSKESRI) ada 5 unit dengan masing-masing satu bidan desa. Di bantu dengan keberadaan Kader-kader Posyandu dan Kader Dasawisma dengan program masing-masing.

 

  • FASILITAS UMUM

Baik atau tidak nya kondisi suat Nagari juga dapat dilihat dari keberadaan dan ketersedian Fasilitas Umum. Nagari Sitiung merupakan Nagari yang memiliki fasilitas umum yang memadai, terutama fasilitas keagamaan; dari 6 (enam) Jorong yang ada, hanya Jorong Lawai yang belum memili Masjid dan masih memanfaatkan masjid Kecamatan yang ada di Jorong Sitiung. Begitu juga dengan keberadaan Surau dan Musholah sudah hampir di tiap dusun/ kelompok warga telah memiliki Surau / Musholah.

Namun fasilitas umum lainnya masih belum merata, misalnya fasilitas olah raga, fasilitas pendidikan, Ruang Terbuka Hijau / Taman Nagari, fasilitas ekonomi, fasilitas kesehatan. Fasilitas tersebut sebgian telah ada namun kondisinya masih perlu diperhatikan.

 

  • KEADAAN EKONOMI

Kondisi sosial ekonomi masyarakat Nagari Sitiung dapat dilihat dari angkatan kerja yang ada. Dari keseluruhan penduduk, pekerjaan yang paling banyak ditekuni penduduk Nagari Sitiung adalah dibidang pertanian sebanyak 4.554 jiwa atau 61%. Di ikuti oleh pedagang kecil sebanyak 665 jiwa atau 9%. PNS 220 jiwa atau 3%. Tukang 148 jiwa atau 2% dan sopir 73 jiwa atau 1%.

Indikator lain yang digunakan dalam dokumen ini dalam melihat kondisi sosial ekonomi masyarakat adalah keberadaan KK Miskin. Dari data tahun 2013 jumlah KK miskin yang ada di Nagari Sitiung sebanyak 312 KK. Mengenai ketersedian data tersebut perlu dilakukan pendataan ulang.

 

  • KONDISI PEMERINTAHAN NAGARI
    • PEMBAGIAN WILAYAH

Dengan berlakunya Undang-undang 72 Tahun 1975 tentang Pemerintahan Desa maka Nagari Sitiung terpecah belah menjadi 4 (empat) desa yakni :

  1. Desa Sitiung
  2. Desa Gunung Medan
  3. Desa Pulai
  4. Desa Sungai Duo

Nagari Sitiung secara pemerintahan mulai terbentuk kembali sejak berlakunya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, wilayah Nagari Sitiung bertambah dengan 2 (dua) desa ex transmigrasi. Jadi nama desa menjadi jorong dibawah Nagari yakni :

  1. Jorong Sitiung
  2. Jorong Gunung Medan
  3. Jorong Pulai
  4. Jorong Sungai Duo
  5. Jorong Piruko
  6. Jorong Koto Agung.

Peraturan Daerah Dharmasraya Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pembentukan dan Penataan Nagari maka Nagari Sitiung dibentuk menjadi 3 (tiga) bagian yakni Nagari Sitiung , Nagari Gunung Medan dan Nagari Sungai Duo.

Dari hasil pemekaran tersebut nama-nama jorong yang ada di Nagari Sitiung adalah:

  1. Jorong Sitiung
  2. Jorong Pulai
  3. Jorong Piruko Selatan
  4. Jorong Piruko Utara
  5. Jorong Lawai
  6. Jorong Padang Sidondang.